5/22/2008

Gadis Kecil di Bus Kota

Tubuh mungil itu berjalan tertatih...

Rambut kusutnya berantakan

Mata setengah ‘sadar’

Celana krem selutut, kaos merah terang

Tak menjadikan keadaannya tampak lebih ‘layak’


Di dalam bus kota model jepang,

Dari ibukota menuju daerah penyangganya


Beberapa amplop lusuh dalam genggamannya

Satu persatu ia bagikan pada para penumpang bus


Tak ramai saat itu..

Namun cukuplah membuat gadis mungil itu kewalahan

Menjelajahi bus dari depan, hingga ujung belakang


Jalannya sempoyongan

Ditambah lagi laju bus yang tak karuan

Beberapa kali ia nyaris terjatuh karenanya

Namun, berkali-kali itu pula ia mampu bertahan


Miris hatiku mengamati

Si mungil yang tak mampu menyembunyikan kantuknya

Gadis kecil yang seharusnya sudah nyenyak dalam buaian

Justru masih berada di jalan

Mengarungi derasnya kehidupan


Sari, nama gadis mungil itu.

Ia membuat kami terpesona. Aku dan kedua temanku tak habis fikir.

Betapa anak se kecil itu (berusia 4 tahun)

Diatas pukul 10 malam masih mencari nafkah di jalan.

Kantuk yang mendera, tak dihiraukannya. Ku rasa, yang difikirkannya hanya satu: “Tugasku bagi-bagi amplop, sementara kakakku bernyanyi”.


Ya, memang, si mungil tak sendiri.

Eka, sang kakak yang tak kalah imutnya, tak sungkan bernyanyi

Sambil memainkan sendiri gitarnya.

Suaranya boleh juga...

Serak-serak basah, berkarakter, khas Indonesia


Setelah selesai melakukan aksi ‘panggung’ nya,

Si mungil kembali menarik amplop dari para penumpang

Lalu, terjadilah saat itu...

Saat dimana aku diperlihatkan,

Betapa anak kecil, yang ku kira lemah

Ternyata memiliki kekuatan tuk ‘survive’ yang luar biasa


Luar biasa...

Aku dan temanku terkagum dibuatnya

Ketika posisi gadis kecil ini di tengah-tengah bus

Dalam posisi dimana tangannya tak kan mampu

Menggapai sesuatu tuk dijadikan pegangan

Bus berguncang cukup keras

Dan bisa ditebak

Si mungil yang sudah lelah plus ngantuk ini

Semakin sempoyongan saja posisinya


Tapi ditengah guncangan itu

Anak yang terlihat sangat lemah seperti dia

Mampu bertahan

Tanpa berpegang pada apapun

Dia hanya mengandalkan kekuatan kakinya, kurasa...


Beberapa kali terguncang

Miring kanan miring kiri

Nyaris jatuh ke depan & ke belakang

Tapi nyatanya

Dengan sedikit gurat senyum di wajah lugunya

Ia mampu bertahan...


Hingga sang kakak ‘menyelamatkannya’

Dan menariknya ke tepi dekat bangku penumpang


Aku dan temanku terkagum-kagum menyaksikan adegan itu

Sang kondektur bus ikut nimrung

“Yah, namanya juga udah terbiasa dari kecil turun-naik bis”, ujarnya


“Rumahnya dimana, dik?” ujarku

“Di Perumpung,” ujar Eka, sang kakak.


Reflek, ku tak kuasa menahan diri

Tuk membelai lembut kepala mungil itu


Belaian.... Yah... belaian...

Mungkin mereka jarang sekali ya, merasakan belaian di kepalanya...

Sementara kepala mereka selalu di jejali

Pemikiran tuk bertahan hidup di dunia yang keras.... dan tak ramah


Bergelenglah kepalaku...

Tak habis pikir...

Betapa kejamnya dunia ini

Hingga membuat anak-anak ini

Berjuang mengarungi hidup yang begini keras...


Sekitar pukul 22 lewat saat itu...

Di pinggiran Uki...

Bisa disaksikan dengan mata-kepala sendiri

Betapa banyak anak seusia mereka

Masih berada di jalan

Dengan peralatan ‘tempur’ nya

Gitar dan alat musik lainnya...


Sejurus kemudian,

Pemikiran apatis ku mencuat ke permukaan


Ah...Indonesiaku...

Beginilah cerminan bangsaku....


Bekasi, 22 mei 2008

00.50 WIB


-Elfira Rosa J-

No comments: